
kadang selalu merasa kenapa setiap yang terjadi di muka bumi ini adalah ketidakadilan, meskipun telah dengan susah payahnya kita berusaha untuk menstabilkan ketidakadilan itu dengan sikap yang luar biasa bijaksana (menurut kita).
kalau seandainya dipapar n beberkan berapa jumlah ketidakadilan yang dialami tersebut, jawabannya sudah pasti tak seorangpun yang bisa menyangka bhw terlalu banyak, bahkan kl seandainya dibuatkan suatu "list" bisa dijamin semua pihak dengan rentan waktu 0,001 detik tanpa berpikir panjang setuju menjawab "wah jangan gila dooong, g sanggup tuh nge'listkan' ketidakadilan yang pernah dialami....", bahkan untuk satu jenis ketidakadilan saja bisa jadi minimal 100% dari yang baca postingan ini juga setuju dengan saya, "ah kamu nul ada2 aj, gmn mw buat 'list' seberapa seringnya kita mengalami ketidakadilan untuk satu jenis saja? kamu aja mungkin untuk satu jenis ketidakadilan aj, contohnya seperti diPANDANGRENDAHkan oleh orang lain, mungkin (bahkan mendekati 100%) selalu mengalami, dan kamu sendiri g sanggup kan untuk meng'list'kannya...?".
yup benar, aku bahkan sering berpikir menerawang akal sehatku meski terkadang akal sehatku terganggu dengan emosi yang jg bs mempengaruhiku dalam berpikir kl seandainya ketidakadilan tersebut merupakan suatu proses alami yang reflektif. artinya, coba seandainya org yang men-tidakadilkan kita mengalami hal yang sama dari apa yang telah dilakukannya trhdp kita dengan tiba-tiba begitu dia selesai melakukan ketidakadilannya itu! sumpah (tp g pakai sambar gledek y:-)) tu orang akan merasakan bagaimana 'nikmatnya' melahap suguhan yang menyenangkan (bagi pelaku) dan menyakitkan (bagi korban) itu....rasain tuh!. tapi malangnya di dunia ini tidak ada yang bakal mendapatkan balasan secara langsung, dan hal inilah yang semakin membuat sang pelaku semakin beringas terhadap aksinya, tanpa berpikir gimana rasanya kl dia mengalami hal tersebut. dan lucunya (pengganti kata ganas) si pelaku tersebut apabila sekali2 menerima ketidakadilan, dia dengan serta merta langsung mengamuk laksana banteng yang tertantang oleh matador. hmm mungkin dia merasa dirinyalah yang paling benar yang hanya boleh menyalahkan orang lain ...dan mungkin juga org lain yg sekali2 ingin membalas ketidakadilan tersebut merasa seakan-akan takut bila menyinggung perasaan sang "raja".
ya karena hanya rajalah yang (berhak) memiliki "TAHTA, HARTA, dan WANITA"
"trus kl ini dibiarkan terus menerus gimana?bahayakan...", "nah kl mmg mau menghentikannya gmn crny cb?". itulah beberapa contoh pertanyaan yang selalu melintas di benak, namun g pernah jawaban yang muncul selalu memuaskan. dan jujur aja aku sendiri pun selalu (kata lain untuk menggantikan benar2 setiap kali mencoba=setiap kali gagal) mengalami hal tersebut. coba bayangkan seorang anak yang berumur 22tahun yang bagi kebanyakan orang 22++ mengatakan "ah kamu kan masih anak2, masih kurang tuh asamnya asam dan asinnya garam yg kamu makan bila dibandingkan dengan kami yang telah berbuih mulut keasinan dan mengecut bibir lidah karena keasaman...". nah si anak yang 22tahun ini mencoba untuk berhadapan menentang ketidak adilan dengan si "kami" yang 22++ td?
otomatis bayangan yang terlintas didalam benak masing2 org adalh...:
"heheheh kecian deh lo nul mengalami itu, n keciaaaaaaaannnnn BGT lo g boleh melawan ataw minimal memperthankan diri memberi klarifikasi...,emang kecian deh lo nul, mskpun gw juga mengalami hal yang sama...."
trus ada juga yang ngomen gini:
"aku prihatin nul sama kondisi yg ko alami, tp aku sendiri juga g bisa berbuat apa2...". kl yg begini aku masih bisa memahami kondisinya, karena mgkn dia memiliki ikatan yg erat. ada iktikad baik yang muncul disitu.
nah yang paling kuguondox sampai membuat ubun-ubun otakku muncrat adalah orang yg kek bunglon, emang sih bunglon ini punya sifat yg memiliki makna ganda, satu yaitu adaptasi, ini bagus krn bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan dan the last one adalah berubah warna.....ini nih rasanya pengen aja "menyental" tu mulut...
mau g kusebutkan contohnya gimana? g usahlah ya...krn wlbgmnpun dia manusia dan aku juga manusia, aku harus menjaganya....kecuali kl binatang, dengan senang hati aku menybutnya...itu tuh: BUNGLON!
tapi aku juga berterima kasih kepada pihak yang merangkai ini padaku:
"nul kalau tirai dapat kau sibak maka matahari yang terang akan dapat menghangatkanmu, jangan mengalah sama tiran yang selalu menyiksamu, krn tirani jauh kalah hebat dengan mentari"
anyway, kini semakin berjalannya waktu semakin membuat setiap manusia yang belajar bahwa pengalaman adalah guru yang berharga menjadi dewasa. aku menanggap semua yg kualami merupakan proses yang bisa membentukku membina benteng kalbu yang siap dan tahan terhadap segala serangan yang aku yakin suatu saat nanti bisa kupraktekkan dengan baik, ntah untuk wktu 1,2,4,8,16 tahun mendatang...atw ntah kapan, tapi aku yakin aku akn mendptkannya....
meminjam petuah M.Yusuf Kalla yang seorang wakil presiden Republik Indonesia (saat ini 2008, red.) dan juga pengusaha yang mampu membesarkan bisnis keluarga yang hanya bermula dari perusahaan hasil bumi menjadi perusahaan 'giant' yang mengusai belahan timur Indonesia raya....
"jikalau kamu mau menjual, maka kamu harus sanggup untuk membeli, dan bila kamu menjual namun tidak ada yang membeli, maka berjuanglah terus sampai mereka membelinya..."
(kupesetkan sedikit.....)