bingung....
itulah kata yang tepat untuk menggambarkan situasi sebenarnya ketika sel-sel kecil otakku kucoba untuk kupacu memikirkan apa yang harus kutulis yang untuk seterusnya mengirimkan sinyal listrik menuju jemariku untuk mewujudkannya menjadi bait kata menerusi tekanan pada tuts keyboard ini. sebenarnya hari ini aku cukup gembira karena beban diotakku satu persatu mulai hilang, terlbih lagi dalam beberapa bulan ini aku terbeban oleh pemikiran tentang ujian studiku.
hari ini (6/4/09) mungkin bisa kumasukkan sebagai hari yang penting dalam sejarah perjalanan hidupku, karena secara matematisnya hari ini merupakan ujian tertulis terakhirku dalam studi master yg sedang kujalani, so kl tidak ada halangan berarti, aku akan dapat menyandang M.Sc ku tidak lama lg. hari ini aku menghadapi ujian teori terakhirku dengan subjek "etika lingkungan"; belajar mengenai filsafat lingkungan yang memberikan fokus kepada hubungan manusia dengan organisme lain serta alam dan keterkaitannya dengan lingkungan sebagai tempat hidup dan beraktifitas, memang subjek ini tidak ada kaitannya dengan jurusan kuliah yang sedang kujalani; geologi, dan subjek ini juga sebenarnya adalah subjek ganti dari subjek yang sebenarnya menjadi subjek utama kursus geologi; subjek hidrogeologi. disebabkan dosen yang tidak bisa mengajar pada semester ini maka subjek yang seharusnya kuambil ditukar ke subjek "etika lingkungan".
ada hal yang menarik dari subjek "etika lingkungan" (meskipun secara naluri n penuh kesadaran aku tidak terlalu menyukainya, hal ini karena pemikiran dosen yang tidak bisa menerima pemikiran dari kami semua), aku mendapatkan "pendalaman" mengenai bagaimana untuk mengembangkan pemikiran filsafat dengan lebih mendalam. banyak filsafat yang selama ini hanya kuketahui "kulit luar" nya saja, sekarang justru aku bisa memaknai dan bermain dengan pikiranku untuk mencoba sendiri menjabarkan makna dari konsep/pahaman filsafat. contohnya lifeboat ethic, anarchism, androcentrism, ecofeminism, autotelism, civil disobedience, radical environmentalism, reproductive choice, ecosabotage, whistleblowing dan lain-lain.
beberapa filsafat yang menarik perhatianku seperti androsentrisme, dimana konsep dari pahaman ini adalah "lelaki" sebagai penguasa n penentu, dan konsep ini beroreientasi kepada "man-centered". androsentrisme bertentangan dengan ekofeminisme, dimana ekofeminisme menolak segala bentuk penguasaan (dominasi) terhadap segala bidang. namun yang jadi pertanyaan bagi kedua konsep ini adalah: mana yang lebih baik? saya berpendapat bahwa tidak ada kebaikan yang diperoleh jika kedua konsep ini saling "bertembung", namun yang lebih baik adalah jika kedua konsep ini digabungkan dengan mengambil sisi positif dari masing2 konsep.
seterusnya yang menarik lainnya adalah civil disobedience; paham ini berlandaskan pada konsep untuk menyelematkan lingkungan. nah untuk merealisasikan penyelamatan lingkungan ini maka perlu diambil tindakan nyata yang tegas meskipun itu bertentangan dengan hukum. namun kelebihan konsep ini ialah tidak menghancurkan "harta benda". contoh nyata dari pelaksana paham ini adalah organisasi Greenpeace, yup semua pasti kenal kan? bahkan organisasi ini pernah singgah di kota kelahiranku; Dumai untuk mencegah kapal tanker pembawa CPO.
terkahir, aku coba untuk mengkorelasikan ketiga konsep yang kubicarakan diatas dalam hubungannya terhadap relasi manusia satu dengan lainnya, lebih tepatnya antara lelaki dan wanita (ehm bisa jadi ini menarik dan bisa juga tidak). dari percobaan pengkorelasian ketiga konsep diatas (androsentrisme, ekofeminisme dan civil disobedience) aku ingin menggelitik pembaca tulisan ini untuk coba melahirkan teorinya masing2 dengan memunculkan sebuah permasalahan: bagaimana seandainya jika seorang lelaki wibawa yang angkuh terseret arus percintaan kepada wanita aktivis gender yang telah bersuami, namun wanita tersebut juga jatuh cinta kepada lelaki tersebut? apa solusi terbaik yang mesti dilakukan agar tidak "mencederai" masing-masing pihak yang terlibat? apakah cukup dengan vonis "kubur saja rasa itu"?
hmm siapa tahu...anda mungkin punya persepsi yang berbeda, tergantung dari sudut pandang apa, bagaimana dan dimana anda menilainya....
:-)
itulah kata yang tepat untuk menggambarkan situasi sebenarnya ketika sel-sel kecil otakku kucoba untuk kupacu memikirkan apa yang harus kutulis yang untuk seterusnya mengirimkan sinyal listrik menuju jemariku untuk mewujudkannya menjadi bait kata menerusi tekanan pada tuts keyboard ini. sebenarnya hari ini aku cukup gembira karena beban diotakku satu persatu mulai hilang, terlbih lagi dalam beberapa bulan ini aku terbeban oleh pemikiran tentang ujian studiku.
hari ini (6/4/09) mungkin bisa kumasukkan sebagai hari yang penting dalam sejarah perjalanan hidupku, karena secara matematisnya hari ini merupakan ujian tertulis terakhirku dalam studi master yg sedang kujalani, so kl tidak ada halangan berarti, aku akan dapat menyandang M.Sc ku tidak lama lg. hari ini aku menghadapi ujian teori terakhirku dengan subjek "etika lingkungan"; belajar mengenai filsafat lingkungan yang memberikan fokus kepada hubungan manusia dengan organisme lain serta alam dan keterkaitannya dengan lingkungan sebagai tempat hidup dan beraktifitas, memang subjek ini tidak ada kaitannya dengan jurusan kuliah yang sedang kujalani; geologi, dan subjek ini juga sebenarnya adalah subjek ganti dari subjek yang sebenarnya menjadi subjek utama kursus geologi; subjek hidrogeologi. disebabkan dosen yang tidak bisa mengajar pada semester ini maka subjek yang seharusnya kuambil ditukar ke subjek "etika lingkungan".
ada hal yang menarik dari subjek "etika lingkungan" (meskipun secara naluri n penuh kesadaran aku tidak terlalu menyukainya, hal ini karena pemikiran dosen yang tidak bisa menerima pemikiran dari kami semua), aku mendapatkan "pendalaman" mengenai bagaimana untuk mengembangkan pemikiran filsafat dengan lebih mendalam. banyak filsafat yang selama ini hanya kuketahui "kulit luar" nya saja, sekarang justru aku bisa memaknai dan bermain dengan pikiranku untuk mencoba sendiri menjabarkan makna dari konsep/pahaman filsafat. contohnya lifeboat ethic, anarchism, androcentrism, ecofeminism, autotelism, civil disobedience, radical environmentalism, reproductive choice, ecosabotage, whistleblowing dan lain-lain.
beberapa filsafat yang menarik perhatianku seperti androsentrisme, dimana konsep dari pahaman ini adalah "lelaki" sebagai penguasa n penentu, dan konsep ini beroreientasi kepada "man-centered". androsentrisme bertentangan dengan ekofeminisme, dimana ekofeminisme menolak segala bentuk penguasaan (dominasi) terhadap segala bidang. namun yang jadi pertanyaan bagi kedua konsep ini adalah: mana yang lebih baik? saya berpendapat bahwa tidak ada kebaikan yang diperoleh jika kedua konsep ini saling "bertembung", namun yang lebih baik adalah jika kedua konsep ini digabungkan dengan mengambil sisi positif dari masing2 konsep.
seterusnya yang menarik lainnya adalah civil disobedience; paham ini berlandaskan pada konsep untuk menyelematkan lingkungan. nah untuk merealisasikan penyelamatan lingkungan ini maka perlu diambil tindakan nyata yang tegas meskipun itu bertentangan dengan hukum. namun kelebihan konsep ini ialah tidak menghancurkan "harta benda". contoh nyata dari pelaksana paham ini adalah organisasi Greenpeace, yup semua pasti kenal kan? bahkan organisasi ini pernah singgah di kota kelahiranku; Dumai untuk mencegah kapal tanker pembawa CPO.
terkahir, aku coba untuk mengkorelasikan ketiga konsep yang kubicarakan diatas dalam hubungannya terhadap relasi manusia satu dengan lainnya, lebih tepatnya antara lelaki dan wanita (ehm bisa jadi ini menarik dan bisa juga tidak). dari percobaan pengkorelasian ketiga konsep diatas (androsentrisme, ekofeminisme dan civil disobedience) aku ingin menggelitik pembaca tulisan ini untuk coba melahirkan teorinya masing2 dengan memunculkan sebuah permasalahan: bagaimana seandainya jika seorang lelaki wibawa yang angkuh terseret arus percintaan kepada wanita aktivis gender yang telah bersuami, namun wanita tersebut juga jatuh cinta kepada lelaki tersebut? apa solusi terbaik yang mesti dilakukan agar tidak "mencederai" masing-masing pihak yang terlibat? apakah cukup dengan vonis "kubur saja rasa itu"?
hmm siapa tahu...anda mungkin punya persepsi yang berbeda, tergantung dari sudut pandang apa, bagaimana dan dimana anda menilainya....
:-)

3 comments:
6/4/09 or 6/5/09?
lewat sebulan???
stop dreaming..wake up =P
salamm..
ur blog so intresting, keep post.
tetap aja menarik klo ujungnya wanita..xi xi xi
pantas ja kesetaraan gender masuk ke target MDG's :)
Post a Comment